Candi Lor, Nganjuk, Jawa Timur

· Posted in , , ,

Lokasi: Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur
Jarak Surabaya-Nganjuk: +/- 118 km (+/- 3 jam)
Jarak Jl. Mastrip Nganjuk ke Candi Lor +/- 5 km (+/- 10 menit)
Biaya Masuk: Gratis
Jenis Wisata: Sejarah dan Budaya




Setelah perjalanan dari Surabaya, saya tiba di Candi Lor. Suasana di sekitar candi tampak lengang. Maklum di dekat sawah dan berjarak sekitar lima puluh meter dari jalan raya Nganjuk-Kediri. Tempat parkiran sepeda motor cukup teduh karena di bawah pohon. Saya melangkah ke arah kanan, menghampiri pos penjaga candi. Saat itu ada Mbak-mbak yang menjaga.
"Bayar berapa?"
"Sukarela saja."
Dan saya pun mengisi buku tamu sebelum melangkah keluar. Di dekat pos jaga ada dua buah makam abdi kenasih Mpu Sindok bernama Eyang Kerto dan Eyang Kerti. Di dekat situ, ada sebuah jalan menuju tempat candi.



Candi Lor tidak seterkenal Candi Borobudur atau Prambanan, tetapi bagi masyarakat Nganjuk yang dulunya bernama Anjuk Ladang, Candi Lor adalah pertanda berdirinya kota tersebut pada tanggal 10 April 937. Tanda peringatan ini diperintahkan Mpu Sendok (929-947), raja kerajaan Mataram Kuno, yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Isana Wikramadharmottunggadewa. Kerajaan Mpu Sindok ini dipindah ke Jawa Timur, karena Kerajaan Mataram Kuno tersebut, Medang Kemulan, hancur karena letusan Gunung Merapi (menurut van Bammelem). Menurut prasasti Turyan tahun 939, Mpu Sindok bersama sisa-sisa penduduk yang masih hidup mendirikan ibu kota kerajaan di Tamwlang dan mendirikan istana di Watugaluh (prasasti Anjukladang 937 M/859 Saka). Menurut perkiraan, Watugaluh adalah kota Jombang saat ini.

Prasasti Anjuk Ladang

Menurut prasasti Anjuk Ladang juga, yang diketemukan di reruntuhan candi, diketahui Mpu Sindok yang mempunyai Rakai Mapatih Hino bernama Mpu Sahasra, memerintahkan agar dibangun sebuah tugu peringatan (jayastambha) atasa kemenangan prajuritnya melawan Kerajaan Sriwijaya di daerah yang sekarang bernama Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk dan juga sebagai persembahan untuk batara di hyang persada kabhaktyan. Sayang sekali prasasti Anjuk Ladang berada di musem nasional Jakarta (Nomor Inventaris D.59), bukan di Nganjuk sendiri.


Candi Lor dapat dikatakan adalah candi Hindu Siwa karena terdapat arca Ganesha dan Nandi (saat diketemukan tanpa kepala) serta lingga dan yoni. Dibuat dengan dasar batu adhesit di lokasi tanah seluas 42 x 39,4 meter. Ukuran alas candi 12,4 x 11,5 m dan tinggi candi 9,3 m. Keseluruhan bangunan candi dibuat dengan batu bata merah, sehingga mudah sekali rusak. Ya, sayang, apalagi bangunan candi dicengkeram oleh pohon Kepuh tumbuh sejak tahun 1886 (dari tulisan Hoepermans).

Arca Ganesha

Sebagai candi Hindu, agak menarik ketika diketemukan empat area perunggu beraliran Budha di sawah dekat candi Lor pada tahun 1913,  yaitu Tara Musik, Bodhisatwa, Dhupa Tara, dan Puspa Tara. Namun jika mengetahui bawah Mpu Sindok sangat tolerasi terhadap agama diluar dirinya, maka tidaklah mengherankan. Ini dibuktikan dengan diberikannya desa Wanjang sebagai sima swatantra kepada Pujangga Sri Sambhara Suryawarana karena menulis kitab Budha Tantrayana bernama Sang Hyang Kamahayanikan.

*Sumber Gambar: 
  • https://nganjukkabmuseumjatim.wordpress.com 
  • https://id.wikipedia.org

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.